Kamis, 31 Juli 2014
03112. SENANDUNG MALAM :
SENANDUNG TENGAH MALAM :
Malam hari gelap dan senyap para pekerja sudah pada tidur dibedeng, kepayahan setelah bekerja seharian, bara api bekas berdiang dan minum kopi malam masih merah membara diujung tungku.
Angin dingin bertiup kencang disertai gerimis, tak lama kemudian turun hujan, menambah sepi malam.
Memasuki tengah malam hujan masih belum reda, dari kejauhan terdengan sayup-sayup suara sesuatu, cuk..kucuk, cuk.kucuk, cuk..kucuk, cukkucukkucukkucuk, cuk..kucuk, cuk.. kucuk, cuk..kucuk, cukkucukkucukkucuk.
Rupanya kereta barang yang ditarik loko uap baru lepas terowongan, sedang menanjak menemui rel kereta yang basah ditimpa hujan semalaman, kadang menapak pelan, cuk..kucuk, cuk..kucuk, cuk..kucuk, kemudian terpeleset, cukkucukkucukkucuk. Menapak lagi pelan, cuk..kucuk, cuk..kucuk, cuk..kucuk.
Mungkin masinis dan juru api sedang sibuk menghela kereta, yang lain hujan hujannan menabur pasir diatas rel yang basah, kadang lewat tengah malam baru bisa lepas meluncur ke stasiun Sauh Naga.
Kalau kereta loko diesel Sindang Marga tidak terdengar seperti itu, tahu-tahu sudah berhenti kehabisan tenaga dibawah jembatan jalan raya, dan mundur kembali ke stasiun Sauh Naga, mengambil ancang-ancang.
Sama seperti kereta loko diesel Kruup Bandung Ciwidey di tahun 1960an, lewat stasiun Soreang mulai menanjak dan mau masuk halteu Warung Jambu Cisondari, mati habis tenaga, mundur lagi sampai halteu Citaliktik.
Kemudian ancang-ancang lagi, bisa dua tiga kali baru berhasil masuk halteu Warung Jambu Cisondari, dan terus ke stasiun Ciwidey.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Kata teman saya namanya bukan halteu Warung Jambu tapi Pasir Jambu. Maaf. Habis kejadianya sudah lama lalu. Dan jalur kerete api ini sudah lamaaa mati.
BalasHapus