Kamis, 31 Juli 2014

0312. KURA-KURA ASAM GARAM :



Kegiatan proyek hampir terhenti setelah pekerjaan mencapai prestasi angsuran, rupanya pemborong pribumi sudah kehabisan sumber daya untak itu, dan sekarang tinggal menunggu pembayaran dana angsuran dari  bowhier, kami yang bertugas dilapangan hanya sebatas memberi peringatan. 

Para pekerja dan mandornya pada pulang ke daerannya masing-masing, kebanyakan dari Lubuk Linggau orang Jawa transmigrasi. Pelaksana sudah pulang duluan ke Palembang setor Berita Acara Angsuran kepada bossnya, berbekal uang saku yang pas-pasan sisa dikirim ke istri yang lagi hamil di Bandung.

Saya tidak bisa lagi tinggal di Losmen  Sederhana Tebing Tinggi, jadi tinggal diproyek kira-kira lima kilometer kearah Lahat tepatnya daerah perbukitan sebelum dusun Sauh Naga, bertiga dengan petugas administrasi dan penjaga.

Bedanya disini saya harus belanja untuk tiga orang, beli beras, ikan teri, kacang tanah minyak goreng dan kecap. Sayuran kadang ada orang kampong yang pulang dari ladang mampir sambil istirahat, apa ini pak, "oh itu umbut rotan", bagaimana masaknya pak, "dibakar, dimakan sama sambel terasi", boleh saya coba, "boleh-boleh ambil saja", terima kasih.

Kalau malam terang bulan saya bertiga ngeluyur ke ladang, mencari ikan diselokan dan kodok, "pak ini saya tadi pasang bubu malah dapat kura-kura", mana pak, oh besar sekali, "iya ikan dibubu habis dimakannya, kalau mau bawa saja pak", terima kasih. Pulang ke proyek suka ria menjunjung kura-kura sebesar tampah, sampai tengah malam masih sibuk "meuncit"  kura-kura yang lehernya tidak mau nongol keluar.

Setelah dicacah menjadi daging kecil-kecil dan diberi asam garam, dimasukkan penggorengan, daging yang sudah dicacah sejak dipotong, dicuci, sampai dimasukan ke minyak panas diwajan tetap saja kelojotan , dan tidak kunjung kering, menjelang dini hari baru mau diam dan agak kering pinggir-pinggirnya dan ternyata sudah empuk dan enak dimakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar