Malam habis makan dan nonton bareng sesama penginap tetap di losmen, berjalan beriringan, saya melihat bulan merah rendah di langit senja sebelah barat kota Manna. Utk golongan ahli sihir, ini malam2 persembahan korban. "Maksudnya apa mas", ah tdk, memang saya tdk tahu, tapi omongan itu terlontar begitu saja dari mulut saya.
Malam semakin dingin, saya tidur dikamar yg menjorok ke depan, disebelahnya ruang tamu terbuka losmen, kamar2 lain ada dibagian dlm yg tertutup pintu besar. Saya gelisah ini sdh jam 12 malam, tapi blm bisa tidur, saya berbalik arah yg tadi tempat kaki menjadi tempat kepala, tapi tetap saja tdk mau tidur, malah ada perasaan aneh.
Saya bangun menuntun sepeda motor keluar losmen dan pelan dihidupkan, motor berjalan pelahan tak tentu arah, tapi saya sadar motor mengarah ke pinggiran barat kota Manna.
Parkir dan saya berjalan sampai di bibir tebing curam pantai barat samudra Hindia, terdengar deburan ombak jauh dibawah, menerjang dinding tanah yg bergetar dan tergerus berguguran ditelan ombak samudera.
Sedikit diatas langit barat kota Manna bulan merah bercermin menerangi samudera Hindia. Pelan saya berbalik kearah motor diparkir, dihidupkan dan jln kembali ketengah kota yg sepi seakan tak berpenghuni.
Karena tdk enak perasaan, mulai baca ayat Alquran, motor berjalan terus mengarah ke tempat pekerjaan, namun sekarang saya mulai merasa ada tujuan, dan terasa ada yg membimbing, almarhum kakek Ardja Bangsa yg menyayangi saya sejak kecil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar